|
Namanya Waryono. Siapa sangka laki-laki berperawakan hitam dan sedikit gempal itu adalah seorang pengusaha. Ada beberapa usaha yang dimilikinya. Mulai dari sembako, rumah makan pecel lele, tanaman hias, hingga WC Umum. Profesi lainnya adalah sebagai karyawan bagian Office Boy (OB) di sebuah perusahaan swasta.
Kepiawaan bisnisnya ia ceritakan dalam salah satu sesi pelatihan kewirausahan di daerah Setiabudi, Jakarta Selatan. Saat memperkenalkan diri, ia sempat memprotes penyebutan profesinya. ”Sebenarnya saya tersinggung kalau dikatakan pekerjaan saya OB,” ungkapnya dengan mimik serius.
”Yang benar, bagian saya adalah purchasing, yaitu pengadaaan makanan, minuman, fotokopi, dan lain-lain,” lanjutnya sambil tersenyum.
Direktur Indonesian Entrepreneur Society Bambang Suharno memberikan kesaksian atas keberhasilan Waryono. ”Omzet usahanya mencapai 20 juta per bulan,” ujar pengusaha warnet itu kepada peserta pelatihan.
”Coba saja hitung. Kalo saya bisnis warnet sejam 6 ribu. Nah dia (Waryono) dengan WC umumnya bisa dapet 60 ribu per jam (asumsi buang air kecil semenit),” katanya memberikan hitung-hitungan.
Melihat keberhasilan usaha sang OB, peserta sangat antusias mengajukan pertanyaan dan meminta membagi pengalaman kepada mereka. Seperti dua peserta yang menanyakan tips cara membagi waktu dalam berbisnis, dan mengapa ia tidak keluar dari kantornya agar lebih fokus mengurusi usahanya.
Ia-pun dengan senang melayani pertanyaan-pertanyaan tersebut dan menjawabnya dengan logat Jawa yang cukup kental. ”Kuncinya memberikan kepercayaan kepada karyawan,” urainya menjawab pertanyaan tersebut.
”Saya yakin, Bapak-Ibu yang di sini bisa jadi pengusaha. Saya aja yang OB dan tidak kuliah bisa,” pungkasnya memberi semangat dan motivasi kepada seluruh peserta agar memiliki bisnis sampingan. (ATM)
|